NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Kisah Warga Memperbaiki Dokumen yang Rusak Gara-gara Banjir

Jumat, 17 Januari 2020 | 07:15 WIB
Foto :
  • bbc
Mayoritas dokumen yang didaftarkan korban banjir rusak karena tidak dilindungi pelapis dan tak disimpan di ruang aman. - BBC NEWS INDONESIA

Banjir yang terjadi di Jakarta dan kota-kota di sekitarnya (Jabodetabek) awal Januari 2020 bukan cuma merusak harta benda berbentuk rumah, mobil, hingga alat elektronik, tapi juga dokumen kependudukan dan arsip pribadi lainnya.

Para korban menyebut kerusakan kartu tanda penduduk, kartu keluarga, dan ijazah lebih buruk ketimbang kerugian material lainnya.

Melalui layanan restorasi arsip keluarga, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) berharap tidak hanya membantu publik memperbaiki dokumen, tapi juga mengedukasi pentingnya perawatan dan penyimpanan data-data pribadi.

Vito Pristaza tak menyangka hujan lebat yang terjadi sepanjang malam Tahun Baru 2020 dan hari-hari setelahnya akan memicu banjir besar di permukimannya.

Warga Kecamatan Pondok Melati, Kota Bekasi, Jawa Barat, itu mengira kalaupun banjir terjadi, air tak akan masuk ke rumahnya.

Namun prediksinya keliru. Air banjir ternyata menerjang rumahnya dan merusak hampir seluruh barang di dalamnya, termasuk sejumlah dokumen, yaitu ijazah sekolah dan kuliahnya.

"Saya belum pernah mengalami kerusakan seperti ini selama banjir. Biasanya banjir hanya di luar rumah," kata Vito kepada wartawan BBC News Indonesia, Abraham Utama, Kamis (16/01).

"Kemarin kaget karena sejak 30 tahun tinggal di situ, baru kali ini air masuk rumah. Ijazah basah karena diletakkan di lemari bagian bawah," tuturnya.

Namun Vito merasa beruntung mendapat informasi tentang layanan perbaikan dokumen gratis yang digelar ANRI. Restorasi arsip pribadi, kata dia, setidaknya dapat mencegah kerugian lebih besar yang dialami korban banjir.

"Dokumen lebih penting daripada harta benda lain seperti elektronik atau kendaraan. Ijazah cuma bisa kita dapatkan sekali seumur hidup, sementara barang lain bisa kita beli lagi di kemudian hari," ujar Vito.

`Dokumen pribadi rusak lebih buruk ketimbang kehilangan televisi`

Nina Mulyati adalah satu dari sekitar 400 korban banjir yang memperbaiki dokumennya ke ANRI.

Warga Bekasi Timur itu mengaku rela menempuh perjalanan sekitar dua jam dari rumahnya ke kantor ANRI di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan, demi menyelamatkan arsip peribadinya.

"Ijazah dan transkrip nilai saya basah dan luntur. Semuanya baru saya ambil dari sekolah, belum sempat saya laminating, keburu kena banjir," ucapnya.

Nina berkata, ia memang tidak mempersiapkan dokumen pribadinya menghadapi kondisi terburuk. Ia meletakkan arsip itu di rak buku, tanpa perlindungan sama sekali.

Rusaknya dokumen pribadi itu, kata Nina, lebih buruk ketimbang kehilangan televisi dan alat elektronik lainnya.

"Sekolah sudah 12 tahun, tapi dokumennya malah rusak begini. Nyesek ."

"Ini lebih rugi karena alat elektronik bisa dibeli dengan uang. Kalau ijazah rusak, tidak mungkin kita mengulang sekolah," ujar Nina.

Merujuk dokumen-dokumen rusak yang diperbaiki korban banjir, publik belum menanggap penting perawatan dan penyimpanan arsip pribadi, kata Kasubdit Restorasi Arsip ANRI, Anak Agung Gde Sumardika.

Padahal menurut Agung, rusaknya dokumen pribadi akan semakin menyusahkan masyarakat ketika bencana alam terjadi.

"Arsip keluarga sangat penting karena berkaitan dengan hak keperdataan. Jika disia-siakan dan tidak dirawat secara rutin, hak keperdataan itu bisa terganggu, apalagi saat bencana," ujarnya.

Hingga 14 Januari lalu, 389 korban banjir sudah mendaftarkan perbaikan dokumen pribadi ke ANRI. Arsip rusak yang diajukan antara lain ijazah, sertifikat tanah, kartu keluarga, paspor, akta kelahiran, dan surat keterangan pegawai.

"Kebanyakan disimpan dalam map plastik. Itulah penyebab arsip rusak saat terendam air. Jika basah, sulit melepas dokumen dari map plastik, huruf biasanya menempel," kata Agung.

Cara ideal menyimpan dokumen pribadi

Pertanyaannya, seperti apa cara ideal paling sederhana untuk menyimpan dokumen pribadi?

Jawabannya, metode enkapsulasi, kata Agung.

"Enkapsulasi lebih aman, jika terjadi bencana, arsipnya bisa direstorasi. Kalau laminating, dokumen tidak bisa dibuka, apalagi direstorasi," ujarnya.

Agung berkata, lembaganya terus berusaha mempopulerkan pengarsipan dokumen pribadi secara mandiri.

Enkapsulasi disebutnya berbiaya murah dan mudah dilakukan. Metode ini memerlukan perlengkapan yang dapat dibeli masyarakat, antara lain kertas polyster, selotip dobel, pemotong kertas, dan penggaris.

Program perbaikan dokumen korban banjir Jabodetabek dilakukan seiring layanan restorasi arsip keluarga (Laraska) oleh ANRI. Pelayanan ini dibuka sepanjang tahun dan gratis.

Sayangnya, Agung menyebut layanan ini hanya berlaku di kantor pusat ANRI di Jakarta. Belum setiap pemerintahan daerah menggelar program yang sama untuk korban bencana alam.

Topik Terkait
Terbaru