NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Beda Nasib Kerajaan Jipang dengan Keraton Agung Sejagat

Jumat, 17 Januari 2020 | 08:39 WIB
Oleh : Raden Jihad Akbar, Dwi Royanto (Semarang),
Foto :
  • Dokumentasi Keraton Jipang.
Pawai Keraton Jipang Blora beberapa waktu lalu

VIVAnews – Kemunculan Keraton Agung Sejagat (KAS) di Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, membuat heboh dan geger di masyarakat. Ternyata di Kabupaten Blora pun ada sebuah keraton yang hingga saat ini masih berdiri. Namanya Keraton Jipang.

Keraton yang terletak di Desa Jipang, Kecamatan Cepu sudah ada sejak 2014 lalu. Bahkan untuk menunjukkan eksistensinya, pengurus keraton pernah melakukan kirab budaya pada 2016 silam. Kala itu, kegiatan juga didukung oleh Pemerintah Kabupaten Blora. 

Pimpinan Keraton Jipang, PRA Barik Barliyan Surowiyoto menegaskan, keratonnya sangat berbeda dengan Keraton Agung Sejagat yang belakangan geger di masyarakat. Ia mengaku kerajaan Jipang tidak pernah mengklaim suatu wilayah maupun dan membuat pemerintahan baru.

"Berdirinya kembali Keraton Jipang bukan untuk membuat sistem pemerintahan baru atau merugikan masyarakat seperti KAS di Purworejo. Kami juga mempunyai legalitas dan sudah terdaftar di Forum Keraton Nusantara yang dipimpin oleh Sultan Cirebon," ungkap Barik saat di konfirmasi VIVAnews, Kamis malam 16 Januari 2020.

Barik menjelaskan, saat deklarasi keraton Jipang pada 2014 lalu, pihaknya hanya ingin memelihara dan melestarikan kebudayaan peninggalan leluhur. Kearifan lokal berupa tradisi dan budaya yang selama ini telah diwarisi oleh masyarakat Cepu.

"Fungsi kami mengingatkan pada masyarakat dan Pemkab Blora bahwa kita punya aset budaya dan sejarah yang harus dilestarikan dan dimiliki," ujarnya.

Terkait deklarasi pada 2014 serta kirab budaya pada 2016, ia mengatakan pihaknya ingin meluruskan sejarah jika Arya Penangsang (Adipati Jipang masa Kerajaaan Demak) bukanlah seorang pemberontak. Ia juga ingin meluruskan Kerajaan Djipang memiliki sejarah kuat yang belum tertulis.

"Deklarasi itu bukanlah deklarasi klaim kerajaan, kami mendirikan sebuah yayasan Keraton Jipang, agar para keturunan Arya Jipang atau Arya Panangsang bisa berkumpul kembali dan muncul dipermukaan," tuturnya.

Selain itu,  berdirinya kembali Keraton Jipang bisa menarik wisatawan untuk datang ke Cepu. Banyak budaya yang saat ini masih dijalankan oleh masyarakat.

"Dan itu bisa dikemas baik untuk menarik wisatawan. Dengan demikian bisa meningkatkan ekonomi masyarakat," katanya.

Secara terpisah Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo juga sempat mengomentari keraton Jipang di wilayahnya. Ia membenarkan bahwa Keraton Jipang tidaklah sama dengan Keraton Agung Sejagat yang belakangan membuat resah dan geger masyarakat. 

Dari penelusuran yang ia dapat, Keraton Jipang orientasinya hanyalah pariwisata dan tidak membuat geger masyarakat. 

"Itu beda dengan yang di Purworejo (Keraton Agung Sejagat). Kalau di Purworejo itu kan ngeri, kalau ndak dukung disumpahin tidak selamat, dikutuk dan sebagainya. Kalau yang di Blora ini tidak ada ancaman seperti itu," kata Ganjar.

Menurut Ganjar, Keraton Jipang juga tidak meresahkan masyarakat. Selama ini tidak ada keributan yang terjadi di sana. "Selama ini relatif tidak ada geger genjik (keributan) di sana. Maka nanti biar dicek oleh Kesbangpolinmas kami," katanya. (ren)

Topik Terkait
Terbaru