NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Didenda Cicilan Ratusan Miliar, Wawan Ngadu ke Majelis Hakim

Kamis, 13 Februari 2020 | 19:45 WIB
Oleh : Syahrul Ansyari, Edwin Firdaus,
Foto :
  • ANTARA FOTO/Nova Wahyudi
Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan

VIVAnews - Bos PT Bali Pacific Pragama Tubagus Chaeri Wardana alias Wawan meminta solusi kepada majelis hakim atas piutang bunga atau denda dari sejumlah aset yang disita Komisi Pemberantasan Korupsi.

Solusi tersebut diminta lantaran piutang yang dibebankan pihak ketiga terhadap Wawan mencapai ratusan miliar.

Hal itu diungkapkan Wawan dan kuasa hukumnya TB Sukatma kepada majelis hakim dalam sidang di Pengadilan Tipikor Jakarta, Kamis, 13 Februari 2020.

Dari sekian aset yang dibeli kredit dan disita KPK, di antaranya berupa puluhan kendaraan roda empat, termasuk sejumlah mobil mewah.

KPK disebutkan banyak melakukan penyitaan aset yang bukan milik Wawan, atau setidak-tidaknya masih terkait dengan pihak ketiga atau kreditur dan masih belum dibayar lunas.

Namun, Wawan tetap harus dibebani cicilan kredit membayarnya meski statusnya disita. Sehingga hutang Wawan makin bertambah akibat bunga kredit.

TB Sukatma menyebut kewajiban kliennya pada sejumlah pihak ketiga sampai saat ini lebih dari Rp250 miliar. Hingga saat ini, dijelaskan Sukatma, kewajiban itu terus ditagih meskipun aset disita lembaga antikorupsi.

"Perbankan dan sebagainya dan sampai saat ini ditagih terus. Sehingga kami berharap yang mulia bisa memberikan solusi, KPK juga memberi solusi," kata Sukatma kepada majelis hakim.

Di luar perkara hukum, persoalan hutang ini dinilai serius. Sehingga perlu diatasi dengan segera.

"Ini jangan sampai perkaranya selesai, terdakwa menjalani hukuman terus kemudian anak istrinya dikejar hutang-hutang ini. Jadi mohon yang mulia memberikan solusi," kata Sukatma.

Jaksa KPK berdalih penyitaan aset dilakukan terkait proses pengusutan kasus dugaan korupsi dan pencucian uang. Salah satu alasannya untuk mengembalikan uang yang telah digunakan. Namun, jaksa KPK dalam persidangan ini seakan tak memberikan solusi atas persoalan tersebut.

"Berapa yang sudah dibayarkan kami menarik uang itu kendaraan buat leasing," kata Jaksa KPK, Roy Riady.

Dalam sidang, Wawan mengaku tak keberatan apabila aset yang disita KPK dijual untuk bayar kewajiban. Bahkan, Wawan mengaku sudah membuat pernyataan kepada sejumlah pihak ketiga terkait hal tersebut.

"Poinnya saya tidak keberatan dijual, dicari titik temu, yang penting persoalan utang ini beres. Sebenarnya saya sudah buat pernyataan kepada pihak ketiga ini, terutama terkait persoalan mobil-mobil ini, karena mobil-mobil ini harganya susut kemudian tagihan bunganya tambah naik, seperti sekarang ini pokok dari Rp900 juta jadi Rp4,7 miliar, itu jadi sesuatu yang tidak masuk akal, sementara misal mobil harga Rp2 miliar sekarang jadi Rp800 juta, itu kan jadi nyusut," kata Wawan.

Ketua Majelis Hakim Ni Made Sudani sempat menengahi persoalan utang ini. Hakim Ni Made Sudani sempat mengkritisi upaya penyitaan yang dilakukan KPK namun tak memperhitungkan resiko piutang.

"Nggak bisa sembunyi di balik kepentingan negara, ndak profesional aja. Dari pihak sini (KPK) juga mengoreksi dari KPK penuntut umum atau penyidik," kata hakim Ni Made Sudani.

Ihwal pembelian sejumlah mobil diklarifikasi oleh jaksa KPK kepada sejumlah saksi yang notabene pihak ketiga. Salah satu saksi mantan pegawai bank Bukopon Eni Rismaria membenarkan jika Wawan pernah membeli mobil jenis Lamborghini Aventador, Bentley Continental Flying Spur dan Ferrari 458 Spider secara kredit.

Wawan dalam angsuran kredit mobil diminta membayar selama 36 bulan. Namun, Eni mengaku lupa berapa kredit yang diberikan kepada Wawan untuk membayar mobil tersebut.

"Seingat saya, Lamborghini Aventador, Bentley, dan Ferrari," kata Eni.

Sementara mantan pegawai CIMB Niaga Rudi Heryadi mengatakan, Wawan pernah membeli mobil jenis Nissan keluaran tahun 2012 dengan cara kredit. Akan tetapi persoalan hukum yang merundung Wawan justru membuat angsuran menunggak.

"Jadi secara otomanitis angsuran nunggak," kata Rudi Heryadi saat bersaksi.

Padahal, diakui Rudi, sebelum dirundung persoalan hukum, Wawan merupakan debitur yang baik.

"Bapak Tubagus ini bagus. Sebelumnya nggak ada masalah dengan CIMB Niaga," kata Rudi.

Topik Terkait
Terbaru