NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Ari Askhara Cs Dipecat, Benarkah Loyalis Rini Soemarno Dibersihkan?

Rabu, 11 Desember 2019 | 00:58 WIB
Oleh : Hardani Triyoga, Anwar Sadat,
Foto :
  • ANTARA FOTO/Aprillio Akbar
Mantan Direktur Utama Garuda Indonesia, Ari Askhara (kedua dari kanan)

VIVAnews – Juru Bicara Kementerian BUMN, Arya Sinulingga, membantah langkah Menteri BUMN Erick Thohir memecat sejumlah Direksi Garuda karena ingin bersih-bersih figur yang diangkat Rini Soemarno. Rini merupakan Menteri BUMN periode 2014-2019 sebelum Erick Thohir.

Menurut Arya, sejumlah Direksi PT Garuda Indonesia seperti Ari Akshara dipecat karena memang terkait adanya dugaan penyelundupan barang mewah yang terjadi dalam pengiriman armada Pesawat Garuda A330-900 Neo.

Arya mengatakan, Erick selaku Menteri BUMN menilai berdasarkan kinerja. Bukan karena siapa sosok di belakang direksi tersebut.

"Enggaklah, kita kan enggak tahu semua. Kementerian BUMN jelas, Pak Erick bilang, anda enggak perlu lobi, anda enggak perlu bayar, anda enggak perlu grasak-grusuk untuk lobi Wamen saya atau siapa pun di BUMN, cukup anda punya kinerja bagus bottom line bagus, secara manajemen oke, pasti dipertahankan," kata Arya dalam acara Indonesia Lawyers Club tvOne dengan tema Ketika Garuda 'Diserempet' Moge, Selasa, 10 Desember 2019

Arya juga mengungkapkan saat dia menduduki jabatan sebagai jubir Kementerian BUMN. Kata dia, telah menerima beberapa lobi dari para pejabat di beberapa BUMN untuk posisi tertentu. Namun, tak ditanggapinya. Dia tidak mengetahui lobi-lobi itu telah menjadi budaya sebelumnya atau tidak.

"Banyak sekali lobi-lobi kalau ada teman yang ngirim CV ke saya, jangan lagi, tidak ada gunanya kirim CV ke saya. Sampai aku bilang, ‘bos maaf aku bukan penerima lowongan kerja’," kata Arya.

Di era Erick, Arya mengupayakan tak ada lagi lobi-lobi untuk jabatan tertentu. Sebab, Erick menilai seseorang berdasarkan kinerja. Selagi kinerjanya bagus, maka akan dipertahankan dan diberikan posisi sesuai kinerjanya.

Bahkan, kata dia, Erick tegas melarang pembagian suvenir dalam Rapat Umum Pemegang Saham atau RUPS. Salah satu alasan yang diberikan sebagai suvenir adalah barang mewah seperti handphone berharga puluhan juta rupiah.

"Kalau handphone itu bisa iPhone berapa itu. Kenyataannya, Pak Erick Thohir menyatakan bahwa tidak boleh ada lagi suvenir untuk Kementerian ketika ada RUPS, ada 800 BUMN dengan anak cucunya. Bayangkan RUPS setiap tahun, kalau dikoleksi itu bisa jual handphone saya," ujarnya. (ase)

Topik Terkait
Terbaru