NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Lini Manufaktur Dongkrak Bisnis Bakrie & Brothers

Jumat, 13 Desember 2019 | 15:37 WIB
Oleh : Daurina Lestari, Mohammad Yudha Prasetya,
Foto :
  • VIVA/M Ali Wafa
Direktur Utama Bakrie & Brothers, Anindya Novyan Bakrie.

VIVAnews – Direktur Utama PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR), Anindya Novyan Bakrie, mengungkapkan dalam beberapa bulan terakhir perseroan mendapatkan sejumlah dorongan secara bisnis dari lini usaha di sektor manufaktur. Menurutnya hal itu datang, antara lain, dari PT Bakrie Metal Industries (BMI), PT Bakrie Pipe Industries (BPI), dan PT Bakrie Autoparts (BA).

"BMI telah memproduksi jembatan baja di seluruh Indonesia dengan total sepanjang 26,4 kilometer, setara dengan panjang Selat Sunda, dan menjadi acuan dari hampir seluruh jembatan rangka baja di semua provinsi," kata Anindya di kawasan Kuningan Jakarta Selatan, Jumat 13 Desember 2019.

Selain itu, Anindya menjelaskan bahwa di tahun 2017-2018, BPI telah memasok 34 persen dari total kebutuhan tiang listrik baja PLN. Sementara BA, saat ini diketahui juga tengah merintis industri kendaraan listrik nasional, melalui pengembangan bus listrik melalui kerja sama dengan BYD Auto.

“Sejak akhir Desember 2018 hingga pertengahan 2019, beberapa unit usaha menampilkan performa lebih bagus dibanding waktu-waktu sebelumnya," ujar Anindya.

Anindya memastikan, semua kemajuan positif itu merupakan buah dari upaya restrukturisasi yang dilakukan perseroan, karena sejak beberapa tahun terakhir BNBR memang konsisten menggenjot berbagai upaya perbaikan posisi keuangan. Terutama, dengan upaya merestrukturisasi utang, serta menjalankan program cost reduction dan efisiensi besar-besaran di tingkat operasional anak-anak usaha.

"Secara bertahap, kinerja BNBR berhasil kita perbaiki dan tingkatkan. Beban utang secara konsisten terus berkurang dan nilai aset meningkat," ujar Anindya.

Dia menjelaskan, tahun lalu, BNBR juga melakukan konversi sebagian utang menjadi saham, dan berhasil meringankan beban perseroan secara signifikan. Dalam Laporan Keuangan, beban utang dan bunga Perseroan memang berkurang dari Rp344,63 miliar pada kuartal III-2018, menjadi Rp129,121 miliar pada periode yang sama tahun ini.

"Inilah salah satu bukti dan buah keberhasilan restrukturisasi keuangan perseroan dalam beberapa tahun terakhir. Ke depan, kami akan fokus kepada prinsip pertumbuhan berkelanjutan," kata Anindya.

"Kami memang berupaya untuk terus tumbuh secara berkelanjutan, dengan fokus pada faktor lingkungan, sosial dan tata kelol,” lanjut dia. (ren)

Topik Terkait
Terbaru