NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Akhir Menyedihkan Timnas di SEA Games 2019

Rabu, 11 Desember 2019 | 05:11 WIB
Oleh : Muchamad Syuhada,
Foto :
  • ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/
Laga final sepakbola SEA Games 2019 antara Timnas Indonesia U-22 vs Vietnam U-22

VIVAnews – Performa Timnas Indonesia U-22 di SEA Games 2019 mendadak terjun bebas hingga mencapai titik terendah saat melakoni laga pamungkas, Selasa malam 10 Desember. Rizal Memorial Stadium menjadi saksi bisu kegagalan pasukan asuhan Indra Sjafri merebut medali emas di ajang dua tahunan tersebut.

Tiga gol tanpas balas. Timnas U-22 dibantai Vietnam. Pupus sudah harapan mengulang catatan manis di Manila 28 tahun silam.

Kembali publik Indonesia harus menerima kenyataan pahit gagal di partai final SEA Games setelah terakhir mengalami nasib yang sama pada 2013 lalu, dikalahkan Thailand pada perhelatan di Myanmar.

Total sudah tujuh kali Indonesia mencapai final SEA Games. Dan sialnya, baru dua kali tim Merah-Putih mencatatkan kemenangan sekaligus menggondol emas.

Sementara bagi Vietnam, ini adalah pencapaian luar biasa. Mereka sukses pecah telur di pentas SEA Games. Ya, ini merupakan kali pertama mereka meraih emas cabang sepakbola setelah enam kali penampilan di laga puncak.

Yang lebih menggembirakan lagi bagi Vietnam, ternyata mereka pun berhasil mengawinkan emas dari cabang sepakbola putra dan putri. Beberapa hari sebelumnya tim wanita mereka juga menang atas Thailand dalam partai final tempat yang sama.

Antiklimaks Garuda Muda


Tadinya harapan besar dibebankan di pundak Osvaldo Haay cs agar bisa memberikan prestasi gemilang di pentas SEA Games. Rasa-rasanya ekspektasi tersebut bakal terpenuhi melihat sepak terjang Timnas U-22 di awal turnamen.

Bayangkan saja, pada partai pembuka, Timnas U-22 bisa melibas juara bertahan dan jagoan sepakbola Asia Tenggara, Thailand, dengan skor 2-0. Berikutnya, tim kuat lain, Singapura pun ikut jadi korban keganasan mereka.

Pada pertandingan ketiga, Timnas U-22 sempat terganjal Vietnam yang kebetulan juga masuk di Grup B, grup yang disebut sebagai neraka. Mereka kalah 1-2.

Untungnya Timnas U-22 bisa bangkit dan menjamin tiket lolos ke semifinal sebagai runner up, usai mengalahkan Brunei 8-0 dan Laos 4-0.

Di laga empat besar, Timnas U-22 bersua Myanmar. Laju mereka akan tersendat, sebab harus memainkan laga hingga 120 menit sebelum memastikan menang 4-2 dan lolos ke final.

Dan di partai puncak, Timnas U-22 seperti kehilangan taji. Hilang kegarangan yang dalam dua pekan terakhir diperlihatkan. Mereka menyerah dan dibantai Vietnam 0-3. Lagi-lagi Indonesia harus puas cuma mendapatkan medali perak dari ajang SEA Games.

Karena sudah nyata kalah di atas lapangan, mau tak mau kini yang dilakukan hanya mencoba bersikap ksatria, mengakui keunggulan lawan sekaligus mengucapan selamat.

"Selamat buat vietnam dan laga tadi secara performa, kita lebih baik dari pertandingan sebelumnya. Kita mengawali pertandingan dengan bermain terbuka, gol terjadi, dua gol, dari set piece. Mungkin itu saja, jadi selamat buat Vietnam," kata Indra Sjafri sebagai pelatih.

Termakan Strategi Vietnam


Tidak ada sejarah yang berulang di Manila. Semua punah, karena kegagalan di laga final. Tiga gol Vietnam membungkam publik tanah air. Timnas U-22 tidak berdaya.

Namun ada sejumlah catatan muncul bagi Timnas U-22 setidaknya untuk bisa membela diri. Salah satunya yang disebut oleh ketua umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Menurutnya, faktor ditariknya Evan Dimas di awal babak pertama sangat berpengaruh dan merugikan Timnas U-22. Malah menurutnya, jangan-jangan itu memang siasat yang diatur Vietnam buat melemahkan kekuatan Indonesia.

Evan merupakan jenderal lapangan tengah. Dia yang mengatur tempo dan aliran bola. Namun belum apa-apa dia sudah dihantam oleh Doan Van Hau sehingga harus ditarik keluar digantikan Syahrian Abimanyu.

"Mereka bermain taktis. Baru menit ke-21 mereka sudah cederai Evan Dimas.Memang itu yang jadi strategi mereka. Namun, pemain jangan kecil hati, mereka sudah kasih yang terbaik," kata Iriawan.

Dari Indra Sjafri, dia mengaku punya PR besar dari laga final ini, yakni membenahi tim dalam menghadapi situasi bola mati. Diketahui dua dari tiga gol Vietnam didapat melalui set piece.

"Gol dari set piece menjadi pekerjaan rumah kita. Dan saya dari awal sudah kasih tahu pemain, bahwa Vietnam unggul dari bola atas. Juga sejak dengan pelatih Park, posession mereka, pergerakan pemain, mereka lebih baik. Dan pemain pemain vietnam bermain dengan semangat luar biasa," tutup Indra. (ren)

Topik Terkait
Terbaru