NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Teror Kobra di Permukiman

Sabtu, 14 Desember 2019 | 06:08 WIB
Oleh : Dedy Priatmojo, Zahrul Darmawan (Depok),
Foto :
  • VIVAnews/Zahrul Darmawan
Seekor anak ular kobra ditangkap oleh warga di Perumahan Citayam Village, Desa Ragajaya, Kecamatan Bojong Gede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

VIVAnews – Sepekan terakhir ini, masyarakat di beberapa daerah dibuat resah dengan kemunculan anakan ular kobra yang dikenal memiliki bisa mematikan. Tak main-main, jumlahnya mencapai puluhan.

Yang bikin panik, baik induk maupun kawanan anak ular kobra banyak ditemukan di daerah permukiman warga. 

Kondisi ini tentu sangat mengkhawatirkan. Bagaimana tidak, ular-ular berbisa itu bisa berkeliaran dan setiap saat mengancam nyawa manusia. Seperti yang terjadi di Perumahan Royal Citayam Residence, Kampung Duren Baru, Desa Susukan, Bojonggede, Kabupaten Bogor.

Dalam beberapa hari ini, sudah 33 ekor anak ular kobra ditemukan di sekitar lingkungan perumahan. Tak hanya di teras rumah warga, anak ular berbisa ini ditemukan di musala, gorong-gorong hingga di semak-semak lingkungan perumahan.

"Ini sudah sejak semingguan muncul terus. Sudah diambil eh ada lagi, ada lagi," kata Kapolsek Bojonggede Kompol Supriyadi, Selasa 10 Desember 2019.

Di sekitaran Depok, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Depok juga menerima banyak laporan warga soal penemuan anak ular kobra. Bahkan, anakan ular kobra menyarang di area kantor wali kota Depok. Walau sarangnya belum ditemukan, petugas setidaknya menemukan induk dan anak ular Kobra di Gedung Dibaleka II Pemkot Depok.

"Yang di Balai Kota adanya di gudang obat farmasi, dekat parkiran, itu belum ketemu sampai sekarang. Itu indikasinya ular kobra," kata Petugas Damkar Depok, Merdy Setiawan, Jumat, 13 Desember 2019.

Teror anak kobra di Depok ini setidaknya membuat seorang pedagang di Pasar Kemirimuka, Kecamatan Beji, Depok, terpaksa dilarikan ke rumah sakit lantaran digigit ular kobra. 

Sri, salah satu saksi mata mengungkapkan, peristiwa itu dialami oleh Wagiman, pedagang sayur. Kejadiannya bermula ketika Wagiman sedang beberes di warung sekira pukul 14:30 WIB, Kamis 12 Desember 2019. Tanpa disadari, tiba-tiba ada ular yang melintas di bawah dagangannya dan menggigit kaki kanan Wagiman.

Usai terkena gigit ular, korban sempat tidak langsung berobat tapi memilih bertahan. Namun, akhirnya dibawa rekan-rekannya sesama pedagang ke rumah sakit. Hingga kini, Wagiman masih menjalani perawatan di RSUD Depok.  

"Ular yang gigit jenis kobra, enggak besar sih. Ularnya enggak ketangkep langsung kabur ke kolong," kata Sri, Jumat 13 Desember 2019.

Tak hanya terjadi Depok dan sekitarnya, teror belasan hingga puluhan anak ular kobra ini terjadi di Gunung Kidul, DIY, Jember, Purwakarta, Cibinong, Bogor, Jakarta Timur, Bekasi, dan beberapa wilayah lainnya. Teror anak kobra ini tak hanya di halaman, tapi sudah masuk ke dalam rumah, bahkan menyarang di perangkat elektronik. 

Saking seringnya peristiwa serupa terjadi, warga di Wonosari, Gunung Kidul menganggap kemunculan anak-anak ular kobra ini sebagai siklus tahunan. Seperti pada tahun-tahun sebelumnya, anak-anak kobra itu bermunculan pada awal musim penghujan. 

Meskipun anakan ular kobra sudah banyak yang ditemukan, warga tetap masih waswas. Lantaran induk dari anakan kobra itu banyak yang belum ditemukan. Umumnya, sang induk meninggalkan telur-telurnya di sekitar permukiman, menetas dan berkeliaran ke permukiman warga. 

Foto: Anak ular kobra ditemukan di permukiman warga di Citayam, Bogor 

Siklus Alamiah


Kemunculan ular kobra di berbagai lokasi di Indonesia dianggap sebagian warga menjadi teror. Warga dibuat risau karena kehadirannya yang menyasar ke permukiman. Namun demikian, warga diminta tetap tenang sembari mengenal dan memahami siklus kehidupan ular kobra sebagai antisipasi di kemudian hari.

Peneliti reptil dari Pusat Penelitian Biologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Amir Hamidy mengungkapkan, ular kobra kadang disebut dengan ular sendok. Sebutan ini karena perilaku sang ular yang dapat menegakkan dan memipihkan lehernya, melengkung menyerupai sendok apabila merasa terganggu atau terancam musuhnya. 

Ular kobra merupakan ular berbisa dari suku Elapidae, keluarga ular yang berbisa kuat. Ular kobra memiliki kemampuan menyemprotkan racun bisa mematikan atau venom. 

"Terdapat dua jenis ular kobra di Indonesia. Kobra Sumatra atau Naja Sumatrana yang terdapat di Sumatera dan Kalimantan dan kobra Jawa atau Naja Sputatrix yang terdistribusi di Jawa, Bali, Lombok, Komodo, Rinca, Sumbawa, dan Flores," kata Amir dalam keterangannya dikutip Jumat 13 Desember 2019. 

Dia menjelaskan, ular kobra Jawa menghuni tipe habitat seperti perbatasan hutan yang terbuka, savana, persawahan, dan pekarangan. Ular ini berukuran rata rata 1,3 meter dan bisa mencapai ukuran panjang 1,8 meter.

Sekali bertelur, induk betina ular kobra Jawa dapat menghasilkan 10-20 butir telur. Telur akan menetas dalam rentang waktu tiga sampai empat bulan. Biasanya, telur kobra diletakkan di lubang-lubang tanah atau di bawah tumpukan daun kering yang lembap. 

"Awal musim penghujan adalah waktu menetasnya telur ular. Fenomena ini wajar dan merupakan siklus alami," tuturnya.

Kobra Jawa atau Naja Sputatrix juga dapat melumpuhkan lawannya dengan cara menyemburkan racun bisa atau venom. Jenis gigitan bisa kobra Jawa ini Neurotoxin yang langsung menyerang sel saraf. Gigitan ular kobra ini juga berefek nekrosis (pembusukan jika tergigit).

"Ini bisa menyebabkan cacat permanen," kata pemerhati reptil, Arbi Krisna, Kamis, 12 Desember 2019.

Arbi mengatakan, kobra pada umumnya sama seperti ular lainnya yang menyukai tempat lembap dan jarang aktivitas atau getaran serta penampakan orang. Namun, pada ular jenis kobra Jawa bisa beradaptasi dengan wilayah ramai penduduk atau permukiman.

"Aslinya semua ular habitatnya tidak jauh dari sumber air, namun untuk jenis Naja Sputatrix (kobra penyembur) sudah dari dulu hidup dan berani beradaptasi dengan pemukiman ramai," ujar Arbi.

Arbi menilai, fenomena keberadaan ular di permukiman terjadi akibat rusaknya habitat ular. Itu terjadi lantaran maraknya pembangunan yang menyebabkan tempat persembunyian hewan reptil itu semakin sedikit, sehingga menyesuaikan lingkungan untuk bertahan hidup.

"Musim menetas ular tiap tahun memang begini. Nah, dulu sebelum banyak pemukiman yang gusur rumah si ular, ular akan sembunyi. Tapi sekarang rumah ular bersembunyi habis sama perumahan, jadi mau tidak mau ular akan menampakkan diri karena tempat sembunyi yang hilang," ungkapnya.

Foto: Petugas Damkar menangkap seekor ular King Kobra di Bekasi

Menangkal Ular


Untuk mengantisipasi teror ular masuk ke dalam rumah atau lingkungan, maka pengetahuan soal siklus kehidupan ular kobra dan tempat bersarangnya wajib diketahui. Seperti dijelaskan di atas, waktu perkembangbiakan ular antara November-Januari yang didahului dengan proses bertelur pada 2-3 bulan sebelumnya.

Nah, selama rentan waktu tersebut, warga diimbau agar waspada dan menggelar aksi bersih-bersih lingkungan.

"Sebelum bulan-bulan ini adakan kerja bakti, lingkungan bersih dan tidak ada tempat nyaman otomatis kobra akan cari tempat lain buat bertelur," kata Arbi.

Kemudian, untuk menghindari ular masuk ke rumah, dapat dilakukan dengan menjaga kebersihan rumah. Gunakan pembersih lantai dengan aroma yang menyengat atau kapur barus karena ular tidak suka dengan bau yang tajam. 

Hindari meninggalkan sampah bekas makanan di rumah yang dapat mengundang tikus mangsa ular. 

Selalu bersihkan rumah dari tumpukan barang-barang, termasuk pekarangan rumah dari tumpukan daun-daun kering atau material yang menumpuk yang bisa menjadi tempat persembunyian ular.

"Siram seluruh saluran air yang menuju rumah dengan karbol yang berbau tajam dan tutup semua saluran air dengan ram kawat," katanya.

Seandainya ditemukan ular, untuk keamanan, pemindahan ular dilakukan dengan pendampingan dari petugas yang berwenang dan memiliki pengetahuan untuk menangani ular berbisa. Sebab, gigitan bisa ular dapat mengancam jiwa manusia.

Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2016, bisa ular tidak langsung masuk ke dalam darah melainkan menyerang sel getah bening manusia. "Tapi sel getah bening ini memang drainase (untuk) masuk ke dalam darah," terang Arbi.

Arbi menjelaskan, posisi sel getah bening, berada persis di atas otot, sehingga apabila otot bergerak, racun ular akan terus mengalir dan menjalar ke seluruh tubuh. "Nah proses imobilisasi ini untuk mencegah otot tidak bergerak,” terangnya

Ia juga mengatakan, proses imobilisasi dapat dilakukan dengan cara menopang area tubuh yang terkena gigitan agar ototnya tidak bergerak. Imobilisasi yang dianjurkan bagi penderita gigitan bisa ular yang dikeluarkan WHO, yakni dengan cara dibidai atau dibalut seperti penderita patah tulang

Setelah dilakukan pertolongan atau penanganan pertama, segeralah bawa korban ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut. Nantinya, tim medis akan melakukan observasi selama 2 x 24 jam untuk melihat fase lokal atau sistemik.

"Jika sistemik akan disuntik serum, tapi kalau lokal korban sudah boleh pulang setelah dua hari," tuturnya.

Namun, jika si korban terkena bisa atau racun dengan cara disembur (bukan digigit), sebaiknya langsung disiram menggunakan air bersih. "Kalau disembur jangan dikucek, karena bisa (racun) ular akan bekerja jika dikucek ada lecet masuklah bisa ke dalam sel getah bening," paparnya.

Rizky Maulana, salah satu penggiat reptil asal Bogor menambahkan, tidak disarankan mengeluarkan bisa ular dengan cara menghisap bagian yang digigit ular dengan menggunakan mulut. Sebab, bila salah treatment maka bisa ular akan berpindah ke si penolong melalui mulut. 

"Kalau gigi kita bolong, atau lagi sariawan, terus lambung enggak beres atau lagi kena radang, itu bisa membuat racun ular menjalar masuk ke dalam tubuh. Jadi jangan asal sedot atau hisap, pastikan dulu kondisi tubuh sehat, tidak ada gigi yang berlubang atau sariawan dan sebagainya. Sebaiknya segera ke rumah sakit," tuturnya. (art)

Topik Terkait
Terbaru