NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Semua Wilayah Berpotensi Alami Cuaca Ekstrem

Senin, 13 Januari 2020 | 06:06 WIB
Oleh : Mustakim, Rifki Arsilan, Endah Lismartini,
Foto :
  • VIVA.co.id/M Ali Wafa
Kepala BMKG Dwikorita Karnawati

VIVAnews – Awal tahun 2020, sejumlah wilayah di Jakarta, Bekasi, dan Tangerang terendam banjir. Begitu pula di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dan Kabupaten Lebak, Provinsi Banten. Puluhan orang meregang nyawa dan puluhan ribu lainnya terpaksa mengungsi. 

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyatakan salah satu penyebab banjir yang merendam Ibu Kota Jakarta dan sejumlah wilayah lainnya adalah curah hujan yang tinggi. BMKG mencatat, curah hujan dengan intensitas lebih dari 150 mm/hari dengan durasi panjang selama Selasa sore 31 Desember 2019 sore hingga Rabu 1 Januari 2020 yang turun cukup merata di DKI Jakarta dan sekitarnya.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati, mengatakan hujan yang terjadi di akhir tahun 2019 dan awal tahun 2020 tersebut merupakan hujan dengan intensitas paling tinggi sejak tahun 1900. Menurut dia, hal itu merupakan akibat dari cuaca ekstrem dan perubahan iklim yang terjadi. Ia memprediksi, jika kondisi alam terus mengalami kerusakan maka Indonesia akan kerap mengalami bencana alam. 

Kamis 9 Januari 2020, VIVAnews.com menyambangi perempuan yang ramah ini di kantornya. Mantan rektor Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini pun bercerita panjang lebar terkait banjir Jakarta dan ancaman bencana jika perlakuan terhadap lingkungan tak berubah.

Demikian petikan wawancaranya.

Bagaimana Anda menanggapi peringatan cuaca ekstrem yang dirilis Kedutaan Besar Amerika Serikat yang sempat viral?

Kedutaan Besar Amerika itu memberikan peringatan dini berdasarkan informasi dari BMKG. Karena dari website kami sudah memberikan peringatan untuk tanggal 5 sampai 12 Januari. 

Tapi kenapa informasi tersebut jadi viral?

Ini menjadi pembelajaran buat kami. 

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati 

Maksudnya?

Begitu informasi cuaca yang mengeluarkan Kedutaan Amerika dan menggunakan bahasa Inggris, masyarakat langsung aware, langsung viral. Tapi Informasi yang dikeluarkan dari website BMKG yang menggunakan bahasa Indonesia tak seramai rilis Kedubes. Padahal website kami informasinya lebih detail. Orang itu lebih cepat menanggapi Informasi dari bahasa Inggris dan yang dikeluarkan oleh Amerika. Sayangnya, informasi yang beredar itu diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan terjemahannya salah, sehingga terkesan seakan-akan yang disampaikan Kedutaan Amerika serikat itu berbeda dengan apa yang disampaikan BMKG, padahal sumbernya sama. 

Jadi Kedutaan Amerika itu sebenarnya mengambil data dari BMKG?

Iya. 

Bagaimana prediksi BMKG terkait potensi terjadinya cuaca ekstrem?

Cuaca ekstrem itu fluktuatif. Misalnya, sebelumnya awal Desember lalu kami kan memprediksi, bahwa intensitas akan meningkat di Januari, tapi puncaknya ada di Februari sampai Maret. 

Artinya apa?

Saat Januari, Februari, sampai puncaknya itu intensitasnya fluktuatif. Misalnya, kemarin intensitas (hujan) tertinggi itu tanggal 1 Januari, kan terus turun. Lalu kami prediksi tanggal 9-10 itu meningkat lagi, meskipun tidak setinggi 1 Januari kemarin, dan setelah itu pun akan menurun lagi. Ini cerita cuaca di DKI atau Jabodetabek ya, turun lagi pada tanggal 11 Januari, tanggal 12 turun lagi.

Sejauhmana akurasi prediksi BMKG tersebut?

Kalau memprediksi itu semakin jauh prediksinya akurasinya kurang. Makanya sistem kerja BMKG, prediksi beberapa bulan sebelumnya dengan akurasi yang terbatas, itu lebih baik untuk kesiapan atau kewaspadaan. Namun nanti diulang setiap hari, terutama setiap tiga hari analisa perkiraan cuaca itu.

Kenapa begitu?

Karena memang cara kerjanya seperti itu dalam menghadapi alam. Karena ketidakpastiannya juga tinggi. Jadi strateginya itu, lebih baik jauh sebelumnya diprediksi, ini kan analisa masih kasar, lalu kita akurat kan setiap harinya, semakin dekat, semakin dekat, sampai tiga jam sebelum kejadian. Itu yang dilakukan kita pada peristiwa tanggal 1 Januari kemarin. 

Tim SAR sedang mengevakuasi warga korban banjir di Jakarta

Jadi sebenarnya BMKG sudah memberikan peringatan dini sebelum banjir besar kemarin?

Di awal Desember kita gak ngomong, awas nanti tanggal 1 Januari akan seperti ini, seperti ini, itu tidak bisa. Kita cuma mengatakan intensitas hujan akan tinggi sekitar bulan Januari. Jadi pada awal Desember itu tidak bisa kita mengatakan 1 Januari. Tetapi pada tanggal 23 Desember, setelah kami mengulang lagi, itu kami sampaikan menjelang tahun baru hingga awal tahun, intensitas hujan meningkat, hujan lebat potensi ekstrem. Itu sudah kita sampaikan pada tanggal 23 Desember. Kemudian tanggal 27 kita ulang.

Lalu?

Tanggal 28 kami mendeteksi adanya seruak udara dingin yang membentuk di sekitar laut Cina Selatan. Kita hitung kira-kira dua sampai tiga hari sampai ke wilayah Jawa Barat, Jawa Barat termasuk Jabodetabek kan. Sehingga pada tanggal 28 Desember kami keluarkan peringatan dini cuaca ekstrem, dan itu sampai ke level kecamatan di Jakarta.

Lalu kita ulang lagi Informasi itu pada tanggal 29 Desember. Kami ulang lagi tanggal 30 Desember. Sampai terakhir itu jam 5 pagi tanggal 1 Januari. Kami memprediksi hujan lebat yang disertai angin kencang itu  jam 06.15 WIB. Jadi update terakhir itu jam 5 pag.

Jadi prediksinya jauh-jauh hari ya?

Cara kerja kita seperti itu. Kita prediksi sebulan sebelumnya, kemudian berapa minggu sebelumnya kita terus update. Semakin dekat setiap hari kita update. Itu untuk meningkatkan akurasinya, begitu sampai hari H nya kita sudah bisa mengetahui jam berapa akan terjadi cuaca ekstrem itu.

Berarti sebenarnya stakeholder sudah tahu terkait ancaman banjir tersebut?

Semua informasi dari BMKG secara otomatis masuk ke BNPB, dan BPBD-BPBD di daerah. Jadi stakeholder utama kami adalah Badan Penanggulangan Bencana Daerah sebagai representasi dari Pemda-Pemda dan Badan Nasional Penanggulangan Bencana. Juga TNI, Polri.

Problemnya BPBD itu kan baru bergerak setelah bencana terjadi?

Iya, itu memang PR kami. Jadi kami itu sampai saat ini terus berupaya bagaimana informasi itu, yang kami yakini itu bisa memperkuat upaya mitigasi yang akan dilakukan oleh kementerian, lembaga, pemerintah daerah atau pihak-pihak terkait. 


Selain di Jakarta, BMKG memprediksi potensi cuaca ekstrem akan terjadi sampai kapan?

Secara umum musim hujan akan berlangsung hingga Maret. Tapi di beberapa wilayah sampai April, cuma intensitasnya sudah menurun. Nah, intensitas hujan mulai meningkat bulan Januari, kemudian puncaknya itu Februari sampai Maret. Kemudian terus menurun.

Dimana saja  titik-titiknya? 

Nah, itu tergantung waktunya. Jadi sebetulnya yang secara umum mempengaruhi suhu Indonesia karena adanya aliran udara dari Asia masuk ke Indonesia, tetapi belok dulu ke Pasifik. Nah, Pasifik itu kan samudera, udara itu kemudian membawa uap air, karena penguapan air di situ kan intensif, kemudian uap air itu masuk ke Indonesia dan diturunkan di berbagai wilayah Indonesia.

Fenomena ini diprediksi terjadi sampai Maret, bisa berlangsung di beberapa wilayah sampai April. Karena Indonesia itu luas, jadi tidak bisa serentak bareng. Di sela-sela fenomena yang tiga atau empat bulanan ini, kadang kala terjadi secara insidental fenomena khusus, contohnya menjelang tahun baru yang menyebabkan banjir di Jabodetabek 1 Januari kemarin. Itu fenomena khusus yang di luar musiman. 

Selain itu, dari arah Samudera Hindia kami memprediksi, tanggal 5 Januari itu masuk aliran udara basah. Aliran udara basah itu masuk dari Samudera Hindia yang berawal dari sebelah timur Afrika Selatan. Dia bergerak sepanjang khatulistiwa masuk ke Indonesia diperkirakan waktu itu pada tanggal 5 Januari, masuk melalui Pantai Barat Sumatera bagian Barat, dan itu akan melintasi Indonesia menuju Samudera Pasifik. Jadi dia akan ada di Indonesia antara tanggal 5 sampai tanggal 15 Januari. 

Pada tanggal 5 sampai 10 Januari udara basah itu berada di Indonesia bagian Barat, terutama di Sumatera bagian Selatan, sampai ke Jawa. Tetapi, nanti tanggal 11 sampai 15 Januari, gerakan dia diperkirakan sudah sampai ke Kalimantan, Sulawesi, terakhir habis tanggal 15 Januari. Dan ini akan terulang lagi nanti Februari. Bahkan diprediksi awal Februari mungkin sudah sampai di Jabodetabek lagi. 

Jadi aliran udara basah ini, diperkirakan nanti akhir bulan Januari akan datang lagi. Tetapi sebelum itu di tanggal 20 Januari seruak yang awal tadi akan datang lagi, lalu nanti akhir bulan yang aliran udara basah terulang, dan akan terulang lagi yang seruak tadi pada pertengahan Februari. 

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati

Apakah fenomena itu yang disebut dengan cuaca ekstrem?

Iya. Cuaca ekstrem itu terutama pada curah hujan. 

Bagaimana dengan upaya BPPT yang berupaya menggeser hujan ke tempat lain?

Iya. Yang dipecah itu kan awan tebal yang saya katakan tadi. Nah, awan itu kan bergerak terus, dia turun sebagai hujan kalau sudah terkondensasi. Yang membahayakan manusia itu kalau hujan ini turun dalam intensitas lebat dan di daratan.

Kalau di laut kan risikonya ada pada nelayan. Tapi yang menimbulkan bencana sampai korbannya banyak itu kan karena turunnya hujan ekstrem itu di daratan, dan daratannya tidak siap, sehingga teknologi BPPT kemarin itu bermanfaat untuk menjaga agar awan itu sebelum masuk di daratan sudah dihujankan dulu.

Jadi dipaksa turun sebelum masuk ke wilayah daratan. Bisa di laut, bisa di Selat Sunda, bisa di daratan yang tidak banyak orang. Jadi teknologinya seperti itu. 

Apakah upaya itu cukup berhasil?

Mengatakan berhasil atau tidak perlu ada evaluasi yang mendalam. Tapi kayanya cukup mengurangi intensitas hujan di Jabodetabek. 

Ada yang beranggapan intensitas hujan lebat saat ini karena kemarau panjang?

Tahun lalu Januari juga kita masuk musim hujan. Tapi keterkaitannya adalah dikontrol oleh suhu muka air laut. Yang kemarin kemaraunya panjang karena suhu muka air laut di wilayah perairan Indonesia dan di Samudera Hindia sebelah barat Sumatera, itu suhunya rendah. Bahkan kemarin itu lebih rendah dari normal. Sehingga pembentukan uap air hingga membentuk awan itu menjadi sangat minim, makanya kemarau kemarin menjadi lebih panjang. Nah, kemudian kenapa musim hujan saat ini dimulai dengan intensitas hujan yang tinggi, karena suhu muka air laut sekarang ini memang tinggi, terutama di wilayah Indonesia bagian selatan. 

Mengapa?

Karena matahari sekarang itu posisinya ada di Selatan khatulistiwa, sehingga penguapan itu terjadi intensif di wilayah itu. Jadi pembentukannya juga tinggi, dan itu setiap tahun seperti itu. 

Banjir di Tangerang

Apa benar hujan kemarin itu intensitasnya sangat tinggi?

Benar, di data kami sejak tahun 1900 sampai 2020 ini, intensitas hujan yang tertinggi itu ya kemarin itu tanggal 31 Desember sampai 1 Januari. Ini menunjukkan tren naiknya itu makin lama intensitasnya makin tinggi. Dan 30 tahun terakhir frekuensi intensitas tinggi itu makin sering.

Artinya, berulangnya lagi siklus seperti ini semakin pendek jaraknya. Dan kalau kita lihat kenaikan suhu udara itu kurang lebih sama, dari tahun 1960 sampai 30 tahun setelah itu, sampai di tahun 2015, ada kenaikan sekitar 1 derajat celsius. Nah, menurut ilmu iklim, kenaikan itu berkorelasi dengan terjadinya perubahan iklim global. Jadi pakar di kita itu mengatakan bahwa kondisi sekarang ini indikasi perubahan iklim global itu terjadi. Adanya suhu yang meningkat, dan itu menyebabkan adanya hujan ekstrem sering terjadi dengan intensitas tinggi. 

Kalau sikap kita terus menerus seperti ini, trennya akan naik terus. Sehingga kita akan sering menghadapi peristiwa seperti kemarin itu ke depan. Jadi pesannya, kalau kita tidak berubah, tidak melakukan mitigasi, akan semakin sering terjadi banjir akibat cuaca ekstrem. Dan ternyata, data kami itu korelatif dengan kejadian banjir di tiga dekade terakhir.


Artinya Anda menilai terjadinya kenaikan suhu air laut dan semakin seringnya terjadi hujan dengan intensitas tinggi karena terjadi perubahan iklim?

Iya, ini sudah terjadi. Dan ke depan ini akan semakin serius kalau kita tidak melakukan mitigasi. Kami mendengar paparan Menteri KLHK. Beliau menunjukkan peta yang menggambarkan perubahan lahan di wilayah hulu dari Jakarta. Dan perubahannya itu ternyata sangat signifikan. Jadi yang dulu lahan warna hijau tertutup, dari tahun ke tahun semakin merah. Itu artinya semakin berubah, terbuka. Dan tahun mulai  terjadinya itu korelatif dengan mulai seringnya cuaca ekstrem. 

Lalu bagaimana mitigasinya?

Jadi yang kita maksud dengan mitigasi itu adalah bagaimana agar kejadian bencana itu harus bisa dikendalikan. Jadi perubahan lahan itu harus bisa diminimalisir. Karena suhu udara naik itu kan karena kandungan CO2 meningkat. Kenapa CO2 meningkat? Karena pohon yang bisa menyerap CO2 berkurang. Itu yang membuat suhu meningkat. Dan suhu yang meningkat itu membuat permukaan suhu air laut meningkat. Dan ketika membentuk awan-awan itu terjadi intensif, mengakibatkan perbedaan tekanan antar zona menjadi drastis, lalu muncullah seruak udara tadi, ada aliran udara, itu kan semua terjadi karena ada perbedaan tekanan.

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati

Berarti bisa dikatakan cuaca ekstrem ini terjadi karena perubahan iklim global?

Iya. Cuaca ekstrem itu merupakan indikasi nyata perubahan iklim global itu sudah terjadi. Kenapa seperti itu? Karena perubahan itu tadi, pemanfaatan lahan oleh manusia dan perusakan lingkungan yang terjadi yang menyebabkan suhu meningkat. 

Apakah modifikasi cuaca yang dilakukan BPPT cukup efektif untuk memitigasi?

Dalam kondisi darurat mungkin iya. Tapi kan tidak bisa itu dijadikan mitigasi cuaca ekstrem. Karena skalanya sangat regional. Kalau modifikasi cuaca kan hanya lokal. Daripada kita menembakkan garam, lebih baik mengubah pola hidup kita yang sifatnya lebih memitigasi, misalnya menghijaukan, reboisasi, dan lain sebagainya.

Kalau kondisinya seperti itu, cuaca ekstrem akan terus terjadi?

Iya kalau kita tidak mitigasi. Akan terus terjadi dan intensitasnya makin meningkat dan kejadiannya makin sering. Kami memprediksi akan terjadi kenaikan suhu sampai tahun 2030 dibandingkan dengan suhu sejak tahun 2010 sampai 2016, itu akan naik sekitar setengah derajat celsius, dan curah hujan secara umum itu akan lebih kering 20 persen, tetapi kejadian ekstrem akan lebih sering. Artinya, hujannya yang biasanya turun selama beberapa hari, beberapa bulan, itu akan lebih sering digelontorkan dalam satu hari. Jadi jatah hujan yang seharusnya beberapa hari itu dijadikan satu hari. Seperti yang terjadi kemarin.

Jadi secara akumulasi curah hujannya berkurang tetapi di dalam berkurangnya akumulasi itu akan diturunkan hujan secara masif atau lebih intensif, lebih ekstrem di satu hari. Dan kejadian itu akan lebih sering daripada hujan terus rintik-rintik, sedang tapi sepanjang bulan. 

Selain banjir, apa dampak dari cuaca ekstrem ini?

Cuaca ekstrem yang intensitasnya tinggi itu dampaknya selain banjir, jelas longsor, banjir bandang, dan bisa menimbulkan angin kencang, kilat atau petir.

Prediksi BMKG, daerah mana yang rawan atau berpotensi mengalami cuaca ekstrem?

Sebenarnya Jawa Barat atau Jabodetabek ini termasuk yang paling berpotensi mengalami hujan ekstrem. Tapi, Sulawesi juga bisa demikian. Artinya hampir semua wilayah berpotensi untuk mengalami cuaca ekstrem. Namun biasanya dampak yang paling parah itu adalah yang daerahnya memiliki lingkungan yang rusak parah.

Contohnya, di daerah yang banyak lokasi tambangnya, ketika hujan turun dengan intensitas tinggi, pasti di situ akan banyak terjadi longsor. Juga daerah yang paling banyak tidak mematuhi tata ruang itu pasti akan sering kena dampaknya.


Bagaimana kesiapan BMKG menghadapi cuaca ekstrem ini?

Kalau mitigasi tidak berjalan sebagaimana mestinya, cuaca ekstrem ini akan lebih sering terjadi. Sehingga yang kami lakukan adalah investasi. Investasi pertama yang kami lakukan tahun 2011. Investasi tahap awal itu maksudnya memodernisasikan fasilitas, baik itu peralatan, komputer, high performance computer, jadi otak SDM nya juga kita bikin pinter. Kemudian juga modeling perhitungan analisis itu kami modernkan tahap awal itu berakhir tahun 2015. 

Hasilnya?

Kalau dulu kami memberikan prakiraan cuaca satu provinsi itu satu cuaca. Kalau sekarang sudah bisa per kecamatan. Karena kalau ingin memprakirakan cuaca ekstrem itu harus lebih presisi. Bahkan sekarang kita sudah bisa memperkirakan, kira-kira pukul berapa cuaca ekstrem itu terjadi. Tapi prakiraan itu baru bisa di hari yang sama, sampai seminggu sebelumnya. Kalau seminggu sebelumnya kita belum bisa tahu wilayah mana dan jam berapa itu belum bisa dipastikan. Tapi kalau tiga hari sebelumnya, atau di hari yang sama akurasinya itu semakin tinggi. Dan itu kami baru bisa lakukan di tahun 2018.

Alat peringatan dini tanah longsor di DIY

Dari sisi peralatan apakah sudah memadai?

Belum. Baru di Pulau Jawa dan Sumatera. Indonesia ini kan luas sekali. Dan observasi kami di lautan itu masih sangat-sangat minim. Kita baru memiliki di 10 atau 13 pelabuhan yang dilengkapi dengan fasilitas BMKG. Padahal pelabuhan di Indonesia ini kan banyak banget. Dan yang cuaca tadi itu baru di Jawa dan Sumatera. Sehingga, mulai tahun ini kami mulai melakukan investasi berikutnya, menambah sensor-sensor, menambah jumlah radar, menambah peralatan, menambah pemodelan, dan setiap investasi itu kita selalu diikuti dengan menyekolahkan atau training-training orang-orangnya. Jadi jangan hanya alatnya saja yang modern, orangnya juga harus bisa modern. 

Selain itu?

Sekarang kami sedang mengawali investasi yang kedua, terutama untuk mengatasi gap kekurangan alat-alat observasi di laut, dan untuk darat di wilayah selain Jawa dan Sumatera, terutama di Indonesia Timur. Indonesia Timur itu cuacanya juga udah ngeri. Angin kencang, puting beliung, hujan lebat juga terjadi.

Targetnya kapan semua wilayah itu bisa tercover?

Ini kan prosesnya panjang, beberapa tahun karena duitnya harus banyak. 

Apa yang harus dilakukan agar cuaca ekstrem ini tidak memakan korban?

Ini kompleks sekali. Pertama, ini semua tidak bisa dilakukan BMKG sendirian. BMKG harus bekerjasama untuk menghadapi kondisi sekarang ini. Itu tadi poinnya mitigasi. 

Selain itu?

Sinergi antarlembaga harus semakin diperkuat. Karena bencana yang kita hadapi ini sinergis. Contoh, waktu di Selat Sunda, itu kan sebetulnya sudah diprediksi akan ada bencana hedrometeorologi. Ada gelombang tinggi, dan cuaca ekstrem. Tapi kejadiannya kebetulan bersamaan dengan pasang naik air laut oleh Purnama, dan bersamaan juga dengan tsunami. 

Tapi dari segi peralatan, apakah kualitasnya sudah mumpuni?

Kalau ditanya yang ideal, kita selalu kurang pak. Karena tantangannya itu semakin tinggi dan semakin kompleks, dan semakin bersinergi, kepastiannya semakin tidak pasti. Mungkin peralatan yang ada saat ini, itu mumpuni untuk 10 atau 20 tahun yang lalu. Tapi untuk ke depan bagaimana?

Kepala BMKG, Dwikorita Karnawati

Artinya Anda berharap peralatan kita saat ini lebih maju dan kualitasnya itu 20 tahun ke depan?

Eh, lebih rapat sebarannya. Meskipun dari sisi gempa bumi sudah cukup memadai yaa. Karena apa? Dalam waktu enam bulan, kami mendapat bantuan dari Kementerian Keuangan memasang 194 sensor gempa bumi. Itu dalam waktu enam bulan. Sementara itu, sejak tahun 2008 sampai 2019 atau dalam kurun waktu 11 tahun lalu, kapasitas kami hanya mampu memasang 174 sensor. Itu artinya, bantuan 194 alat sensor dalam enam bulan ini kan sudah harus sangat bersyukur, meskipun kalau dilihat masih perlu diperbanyak sensornya untuk memitigasi kan. Nah, itu di tahun 2019. Di tahun 2020, kami berencana memasang sekitar 190 sensor lagi, untuk gempa dan tsunami. Tapi untuk cuaca masih kurang sekali, dan juga radar yaa, kita masih kurang. Target kami radar itu 65 jumlahnya, saat ini jumlah radar kita hanya ada 42 radar di seluruh Indonesia. 

Problemnya berarti ada pada anggaran?

Mungkin iya. Tapi maksud saya begini, okelah karena anggaran, tapi terus apa solusinya dalam kondisi seperti itu kan. Kalau anggaran kan bisa diusulkan, dan ada waktu, jadi baru bisa terpenuhinya mungkin tahun depan, tapi yang namanya kejadian itu kan tidak menunggu tahun depan.

Apa target Anda?

BMKG terus berupaya bekerja lebih keras lagi, membangun inovasi dan lompatan, melakukan investasi-investasi ke depan, targetnya saat ini itu kami harus melompat minimal 20 tahun ke depan. (ren)

 

 

Topik Terkait
Terbaru