NEWS

BISNIS

BOLA

SPORT

INDEPTH

Teka-teki dan Kontroversi Pengganti Ratu Tisha di Kursi Sekjen PSSI

Jumat, 17 April 2020 | 06:20 WIB
Oleh : Luzman Rifqi Karami, Robbi Yanto,
Foto :
  • VIVA/Robbi Yanto
Mantan Sekretaris Jenderal PSSI, Ratu Tisha Destria.

VIVAnews – Kursi Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI kini tengah lowong. Ratu Tisha Destria memutuskan meninggalkan jabatannya tersebut pada Senin 13 April 2020.

Kini, muncul polemik siapa yang bakal menggantikan posisi Tisha. Terkait hal itu, Wakil Ketua Umum PSSI, Cucu Somantri membuat blunder fatal. Dia menyebut posisi Sekjen akan diisi oleh Wakil Sekjen, Maaike Ira Puspita, yang merupakan adik ipar Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan.

Namun, Cucu meralat ucapannya setelah mengetahui pernyataannya soal pengganti Ratu Tisha menjadi polemik. Dalam pernyataan barunya, Selasa 14 April 2020, Cucu mengatakan penetapan pengganti Tisha tidak mudah. Perlu mekanisme yang harus dilalui untuk menetapkan pengganti Tisha.

Kelabilan Cucu pun mendapat sorotan dari anggota Exco PSSI, Haruna Soemitro. Dia menilai pernyataan Cucu seakan akan atas perintah Ketum PSSI. Padahal, Iriawan belum berujar demikian.

(Baca juga: Akhir Perjalanan Ratu Tisha di PSSI)

"Waketum seharusnya sudah tahu dan paham tentang Statuta PSSI. Jangan membuat statement yang dapat menjadi blunder pemberitaan dan menjadi kontra opini," kata Haruna kepada wartawan.

Haruna mengatakan, posisi Sekjen bisa dibilang sebagai ujung tombaknya PSSI. Oleh karena itu, tak bisa sembarangan orang menduduki posisi tersebut. Sosok Sekjen, menurut Haruna harus paham dengan persepakbolaan Tanah Air sehingga bisa menjalankan tugasnya secara maksimal.

"Dia harus menguasai sejumlah bidang di antaranya memelihara rekening keuangan PSSI dan menjaga hubungan baik antara anggota PSSI dan antar federasi. Dengan demikian jelas Sekjen PSSI harus memiliki pengetahuan luas dan pandai berkomunikasi," ucapnya.

Anggota Exco PSSI lainnya, Yunus Nusi juga menyayangkan pernyataan Cucu tersebut. Menurut dia, dengan berkata seperti itu, terlihat jika Purnawirawan TNI AD itu tidak menguasai masalah.

Belajar dari pengalaman, kesalahan bicara dalam organisasi PSSI malah akan menimbulkan bias. Dan menurut Yunus, hal itu berdampak negatif bagi otoritas tertinggi sepakbola Indonesia.

"Hanya Ketua Umum yang dapat mengusulkan pengangkatan dari Sekretaris Jenderal. Namun, Ketua Umum dapat juga mengusulkan kepada Exco untuk pemberhentian Sekretraris Jenderal PSSI. Jadi, pernyataan Pak Cucu itu tidak mendasar," tutur Yunus.

Ditentukan Ketum PSSI

Lantas, siapakah yang bakal menggantikan posisi Tisha? Merujuk Statuta PSSI tahun 2019. Pada Pasal 61 disebutkan, Sekjen harus ditunjuk berdasarkan perjanjian yang diatur oleh hukum privat.

Selain itu, Sekjen PSSI juga harus memenuhi kriteria dan kualifikasi profesional. Hal tersebut sudah dilakukan saat pemilihan Sekjen pada masa rezim Ketua Umum PSSI sebelumnya, Edy Rahmadi.

Anggota Exco Haruna Soemitro, menjelaskan calon-calon Sekjen baru dipilih oleh Ketua Umum PSSI, Mochamad Iriawan, alias Iwan Bule setelah menjalani serangakaian tes. Kemudian, Exco baru memutuskan sosok yang tepat.

Namun, Haruna menjelaskan dalam statuta tidak disebutkan secara spesifik tentang proses tes calon Sekjen. Oleh karena itu, menurut Haruna harus ditetapkan kriteria khususnya melalui persetujuan rapat Exco.

"Di statuta hanya secara umum tentang kewenangan Exco menyetujui atau menolak usulan Ketua Umum. Dia yang mengusulkan pada rapat exco tentang sekjen baru," kata Haruna kepada VIVA, Kamis 16 April 2020.

(Baca juga: Heboh Muncul Red Bull Depok, Bisa Sesukses RB Leipzig?)

"Tidak diatur bagaimana seleksinya. Exco hanya punya kewenangan untuk menetapkan. Nah, untuk menetapkan itu harus ada dasar. Karena itu kriteria individual secara spesifik itu belum ada. Setelah itu, Exco melakukan persetujuan atau menolak penggantian Sekjen yang diajukan oleh Ketua Umum," jelas Haruna.

Tentang nama-nama kandidat pengganti Ratu Tisha, Haruna sejauh ini belum mengetahui. Pun, dengan isu-isu liar yang berkembang di publik. Ada sejumlah sosok yang muncul ke permukaan setelah Tisha mengundurkan diri.

Di antaranya, Ahmad Syauqi Suratno (Ketua Asprov PSSI DIY), Marco Gracia Paulo (Eks Deputi Sekjen PSSI 2008), Viola Kurniawati (Eks CEO PSS), Tommy Welly, dan Muhammad Kusnaeni sebagai pengamat sepakbola.

"Kalau saya prinsipnya siapa yang dibawa Ketua Umum pada rapat Exco itu baru konkret. Kalau baru isu-isu itu tidak konkret dan itu saya tidak menanggapi," ujar pria yang juga menjabat Direktur Madura United.

Topik Terkait
Terbaru